SKWNEWS Berita Bola Terkini

#SKWNEWS   skwslot

Xavi Simons Bersinar, Tottenham Jinakkan Brentford 2-0

 

SKWNEWS Tottenham Hotspur mengakhiri paceklik kemenangan kandang di Liga Primer dengan performa paling rapi musim ini, menundukkan Brentford 2-0 dalam laga sarat emosi yang menandai pertemuan pertama Thomas Frank melawan mantan klubnya sejak hijrah ke London Utara pada musim panas. Tekanan sempat menggunung seusai kekalahan menyakitkan dari Fulham pekan lalu—yang memicu kritik Frank terhadap respons suporter—namun malam ini atmosfer berubah total: organisasi permainan lebih sinkron, kualitas eksekusi meningkat, dan peluang-peluang berkelas hadir tepat ketika dibutuhkan.

Dua momen dari Xavi Simons menjadi pembeda. Gelandang serang asal Belanda yang didatangkan dari RB Leipzig itu sempat kesulitan menembus susunan sebelas awal dan lebih sering memulai laga dari bangku cadangan, tetapi melawan Brentford ia tampil seperti katalis: mobilitasnya di antara garis, keberanian menerima bola di ruang sempit, serta timing untuk menusuk ke kotak penalti mengubah tempo serangan Spurs. Aksinya memecah kebuntuan ketika ia merangkai pergerakan yang menyiapkan gol pembuka Richarlison, sebelum menggandakan keunggulan lewat solo run yang mulus—memenangi duel 50-50, mengiris pertahanan tamu, dan menuntaskan dengan klinis untuk menorehkan gol perdana bersama klub. Inilah paket lengkap yang diharapkan Frank: kreativitas yang dipadukan dengan agresi vertikal.

Kemenangan ini terasa penting bukan hanya karena konteks emosional, melainkan juga karena letaknya pada peta musim. Ini baru kemenangan liga kandang kedua Tottenham musim ini—yang pertama sejak membekuk Burnley pada pekan pembukaan Agustus—dan hanya kemenangan kandang liga keempat mereka sepanjang tahun kalender 2025. Di hadapan pendukung sendiri, Spurs kerap terlihat patah ritme dan miskomunikasi di fase akhir serangan; kali ini mereka tampil “sehalaman” seperti ditekankan Frank. Intensitas tekanan lebih terukur, sirkulasi bola dari belakang menuju setengah ruang berlangsung cepat, dan ketika celah terbuka, bola segera dipercepat ke area berbahaya. Ucapan Frank selepas laga merangkum pergeseran kualitas itu: timnya terlihat mengancam, menciptakan peluang bagus, bermain dengan kecepatan, tempo, penetrasi, dan elemen ketidakpastian yang memaksa Brentford selalu waspada.

Secara taktikal, Tottenham menunjukkan fleksibilitas yang sebelumnya jarang terlihat. Di babak pertama, mereka mengundang pressing Brentford dengan build-up sabar untuk kemudian mematahkan garis pertama lewat kombinasi satu-dua yang cepat, memanfaatkan penempatan posisi Simons dan Richarlison pada half-space untuk menekan bek sayap lawan. Setelah unggul, Spurs mengelola ritme lebih bijak: bukan sekadar menumpuk pemain di belakang bola, tetapi tetap mengancam melalui transisi terstruktur. Di sisi lain, Brentford berupaya menekan tinggi pada momen pengembalian bola ke kiper, namun Tottenham merespons dengan variasi: terkadang melakukan umpan panjang terarah ke target, terkadang memecah tekanan dengan drop dari gelandang pivot. Rencana permainan tamu tidak buruk, tetapi detail duel individu dan kecepatan keputusan di sepertiga akhir menjadi jurang pembeda.

Performa Richarlison juga patut digarisbawahi. Selain gol pembuka yang menenangkan, kerja tanpa bolanya membuka ruang bagi Simons untuk berkarya. Penyerang Brasil itu berkali-kali menarik bek tengah keluar dari posisinya, menciptakan jalur lari bagi rekan setim yang datang dari lini kedua. Di belakang mereka, lini tengah Spurs bermain efisien—minim sentuhan sia-sia, maksimal dalam progresi. Saat Brentford meningkatkan intensitas selepas jeda, Tottenham tidak runtuh seperti pekan-pekan sebelumnya; mereka menjaga jarak antarlini, memaksa pergerakan lawan melebar, dan menutup kanal tembakan bernilai tinggi. Ketika celah kecil muncul, kualitas individual Simons memastikan skor bergeser ke arah aman.

Kemenangan ini sekaligus mengubah narasi yang sempat membelit ruang ganti. Seusai titik terendah melawan Fulham, Spurs merespons dengan hasil imbang 2-2 di markas Newcastle United pada pertengahan pekan—sebuah pijakan mental—dan kini menegaskannya lewat tiga poin yang meyakinkan. Frank menegaskan ambisinya menjadikan stadion sebagai “benteng” lagi: satu pertandingan tidak serta-merta menuntaskan masalah, tetapi ini langkah nyata menuju arah yang benar. Dengan tambahan tiga angka, Tottenham naik ke peringkat kesembilan dengan 22 poin—posisi yang memberi landasan untuk mendorong konsistensi jelang periode padat.

Bagi Simons, malam ini menghadirkan lebih dari sekadar gol dan assist. Ia mendapatkan apa yang paling dibutuhkan pemain kreatif: kepercayaan diri. Frank mengakui setiap pemain memerlukan dorongan itu, dan performa tim yang lebih padu ikut memupuknya. Jika kontinuitas menit bermain bisa dijaga dan peran di zona antarlini terus dioptimalkan, Simons berpotensi menjadi pengungkit ritme yang selama ini dicari-cari Spurs—penghubung antara build-up yang tertata dan penyelesaian yang mematikan. Untuk Frank, kemenangan atas mantan klubnya terasa simbolik: bukan hanya balas sapaan kepada masa lalu, tetapi juga konfirmasi awal bahwa ide-idenya mulai membumi di Tottenham. Tantangan berikutnya jelas—mempertahankan standar, menumpuk kemenangan, dan pelan-pelan mengubah rumah sendiri menjadi tempat yang kembali menakutkan bagi siapa pun yang datang.

HOT NEWS

TRENDING

Operasi Patah Fibula Alexander Isak Buat Lini Depan Liverpool Terkapar, Bursa Januari…

Malam Rekor di Bernabeu: Mbappe Samai Jejak Ronaldo, Madrid Jinakkan Sevilla 2-0

Qatar Ukir Sejarah: Dua Final FIFA Dalam 24 Jam, PSG vs Flamengo…

Brendan Rodgers Resmi Nahkodai Al Qadsiah: Tujuh Pekan Usai Tinggalkan Celtic, Proyek…

Haaland Menyala di Selhurst Park: Brace dan Ketajaman City Lumat Palace 3-0,…

Scroll to Top